Paradigma Khairo Ummah DDI Dan Strategi Mewujudkannya
Oleh: Nur Khaliq
A.   DDI dan tantangan Zaman
Perjalanan panjang sejarah sosiologis dan naturalis peradaban manusia mencatat kompleksitas problematika kemanusiaan dan alam dari waktu ke waktu yang terus berkembang. Manusia yang di anugrahi daya dan upaya besar yang jauh melampaui kemampuan makhluk ciptaan Tuhan lainnya terus berusaha menaruh kendali dan kontrol atas berbagai masalah kemanusiaan dan alam. Upaya kontrol dan kendali berbagai problematika inilah yang melahirkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin hari semakin kecanggih hingga memudahkan hidup manusia, sekaligus mengeliminasi berbagai kemungkinan sosiologis maupun naturalis yang dapat memusnahkan dan membinasakan ras manusia. Penemuan alat deteksi gempa dan deteksi tsunami, yang hasilkan prediksi akurat kekuatan destruktif alam sebelum terjadinya, menjadikan manusia mampu menyiapkan diri dan sekalugus berusaha untuk memasang antisipasi. Pembangunan banker pelindung dari berbagai jenis bom dan radiasi hingga imaginasi menciptakan bahtra nabi Nuh jilid dua sebagai antisipasi mencairnya es kutub utara dan naiknya permukaan air tanah akibat global worming yang terus memanaskan suhu bumi. Ataukah pencarian planet ideal lain selain bumi yang cocok untuk menopang kehidupan manusia, hingga rencana pembangunan stasiun luar angkasa untuk tempat hidup manusia selanjutnya, bilakah bumi tak lagi mampu menyokong kehidupan. Pengembangan dan penelitian ilmiah hasilkan  berbagai penemuan yang luar biasa. Dalam bidang bio-medik dan gaya hidup, Penjinakan berbagai jenis bakteri dan virus berbahaya dan menjadikannya vaksin yang sangat bermanfaat sebagai penangkal berbagai penyakit menular mematikan yang bisa mewabah dan dapat memusnahkan ras manusia dalam beberapa hari saja, penciptaan bebagai jenis obat-obatan spesifik dan efektif, yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit menular, memusnahkan berbgaia jenis kancer, transpalansi organ hingga penciptaan cloning manusia (bilakah etik dan moral tidak mencegahnya) yang organnya bisa diperjual belikan (manusia clonging tidak di anggap sebagai manusia) untuk mengganti organ manusia yang rusak atau telah tua. Hasilnya, -manusia tua dengan jantung muda- dapat berfungsi optimal kembali sebagaimana organ muda, atau transpalansi kaki manusia cloning untuk mengganti kaki manusia yang lumpuh, atau transpalansi mata manusia cloning, untuk mengganti mata manusia yang buta sejak lahir atau ginjal manusia kloning untuk mengganti ginjal manusia, dll. Penemuan dan penciptaan berbagai jenis teknologi, alat, senjata dan obat-obatan di atas, menggambarkaan betapa besar hasrat dan keinginan manusia untuk hidup abadi. Dalam al-quran, keingina besar manusia untuk hidup kekal abadi itu digambarkan dalam surah:……
Dalam kehidupan sosiologisnya, manusia dengan manusia lainnya pada dasarnya hidup dalam hukum unik untuk saling tergantung dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya. Berbeda dengan binatang atau makhluk lainnya, Interaksi sosial manusia adalah “kehidupan manusia itu sendiri”. Interaksi itu lahir sebagai impack dari fitrah atau hakikat dasar dari kemanusiaan yang tidak dapat hidup menyendiri. Itulah sebabnya mengapa hukuman pembuangan, penjara dan isolasi merupakan bentuk penyiksaan yang paling tingggi, paling pedih, lebih perih dari penyisaan badan dengan melukai atau menyakiti[1]. Mengutip syair lagu dangdut “lebih baik kau bunuh aku dengan pedangmu, daripada aku mati bunuh diri”.
Sebagai makhluk sosial, Interaksi sosial dari idividu dengan individu, kelompok dengan kelompok masyarakat berkembang pesat mengikuti perkembangan teknologi informasi. Penemuan radio dan TV di awal abad 20 merevolusi struktur sosial dan wajah sosial masyarakat di seluruh permukaan bumi. Radio dan TV menghembuskan globalisasi  dan urban culture, yang menampilkan gambaran dan imagi-imagi manusia dari berbagai belahan benua lain, yang secara otomatis pula menghegemoni pradigma berpikir, pandangan hidup, filosofi, hingga tata nilai dan etika moral masyarakat dibelahan bumi lain, sebagai penikmat dan pecandu monitor TV atau frekuensi radio. Dalam sebuah ungkapan disebutkan bahwa acara TV adalah “kehidupan tetangga” bagi ibu-ibu pecandu sinetron dan telenovela. Dimana mereka akan menagis bersama jika tayangannya sedih, tertawa jika tayangannya gembira dan benci jika tayangannya menjengkelkan, bahkan tayangan TV atau radio memiliki porsi tema dan topik tersendiri dalam sesi gosip ibu-ibu ketika mereka sedang berkumpul dalam arisana atau perkumpulan lainnya. Begitu besar pengaruh TV dan radio dalam abad ini, hingga tak heran banyak yang mewanti-wanti bahwa “media TV atau radio adalah senjata yang jauh lebih canggih dari tank atau nuklir” untuk menghancurkan musuh, karna eveknya mampu merontokkan ideologi dan semangat juang bahkan hingga sendi-sendi perlawanannya. Mematikan api sebelum menyalanya sungguh adalah strategi perang yang efektif. Dengan media TV dan radio, negara-negara adidaya menebar “teror” kedikdayaan dan keperkasaan, menghegemoni dan mendominasi  individu maupun negara, hingga tidak seorangpun merasa berani, bahkan dalam niat-pun untuk menghidupkan perlawanan-adalah strategi perang efektif meminimalkan musuh. Dalam sebuah sesi ceramah Prof KH Said Aqil Siraj, Ketua umum PB NU, menyinggung bahwa “mendengar ceramah radikal lebih berbahaya dari menonton video porno”. Terlepas dari berbagai kontrofersi dan pro-kontra yang melingkupinya, penulis hanya ingin menekankan bahwa ada yang jauh lebih berbahaya dari itu semua, yaitu jutaan produksi filem Holiywod setiap tahunnya, yang secara sukses meramu dan menampilkan radikalisme, terorisme, sadisme serta “dadaisme” (pornografi) secara bersamaan dalam satu freming di setiap pembuatannya. Siapakah yang sesungguhnya mengajari anak-anak kita untuk radikal, sadis, teror dan “cabul”?, jawabannya adalah, semua itu mereka temukan dan contoh dari hasil tontonan filem dan acara TV atau radio, jauh-jauh hari sebelum mereka terpapar paham radikalisme dan teror. Bahkan hari ini, anak-anak kita lebih mengenal dan mengagumi superhero hayalan buatan sutradara, ketimbang pahlawah sungguhan dikehidupan dan sejarah nasional. Sampai disini, nampaknya kita tetap harus terus berusaha untuk berimbang dalam mengelola informasi. Timur ataupun barat atau dari mana-pun ideologinya, adalah isme-isme yang sama-sama berpeluarng merotokkan nasionalisme dan kebhinekaan NKRI. Dan pada akhirnya generasi yang terpapar perkembangan informasi melalui media TV atau radio, berkembang dengan wajah dan tata nilai serta semangat hidup yang jauh berbeda dari generasi tua pendahulunya.
 Di abad 21, revolusi media memunculkan internet dan jejaring sosial seperti Facebook, Twiter, WA, Instagram dan berbagai jenis media sosial lainnya. Generasi abad ini, kembali tumbuh dan menampakkan wajah peradaban yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Jika generasi sebalumnya hanya kecanduan monitor TV atau frekuensi radio generasi kali ini kecanduan konten dari monitor atau frekuensi suara tertentu (beberapa aransmen frekuensi suara yang di ramu sedemikian rupa bisa menjadi candu yang fungsinya mirip narkotika), dan telah manjadikan dunia maya sebagai dunia dimana mereka  hidup. Hampir seluruh kehidupan manusia telah terserap masuk kedalam dunia maya. Mereka bergaul, bercanda dan berteman, berdagang, bertukar barang dan jasa, bertukar pikiran, berdiskusi, bertengkar, menghakimi, membenci, menista dll, semuanya dalam dunia maya. Hingga rasanya lebih asyik “hidup” dengan “si maya” dalam dunia maya, ketimbang dengan “si maya” di dunia nyata. Dunia maya, menjadi gambaran “syurga nyata” bagi manusia. Segalanya ada, segalanya mudah, segalanya nikmat, dan segalanya kebahagiaan, prilaku dan tindakan tidak perlu lagi di adili, atau sekedar mempertimbangkan akibat dan hukumannya, dan sungguh begitu mudah untuk menggapainya. Indahnya lagi karna setiap orang dengan mudah bisa masuk di dalamnya tanpa perlua adanya hisab atau timbangan amal perbuatan, atau melalui peribadatan yang ketat dengan tata moral yang padat seperti yang di ajarkan oleh agama-agama dunia.  
Media sosial menarik hukum unik interaksi sosial yang merupakan hakikat kemanusiaan dari kehidupan nyata ke kehidupan maya. Dampaknya adalah hasrat hidup abadi manusia nampaknya menemukan jalurnya. Dunia maya, menjanjikan kekekalan abadi  bagi umat manusia. Mengutip AS kambie, dalam serashan kongres IMDI X, ia menyampaikan bahwa “media sosial menjadi alam lain dari kehidupan. Disana manusia menanam kuburan perbuatannya. Disana rekam jejak perbuatan dan perilaku manusia yang telah lama terpendam sebagai memori, tersembunyi dan dapat digali kembali, seperti surat catatan amal perbuatan yang akan di buka kembali di padang mahsyar”.
Memori dari kehidupan manusia ini belakangan menjadi menarik minat banyak saintis untuk lebih dalam menggali dan meneliti serta menjadikannya objek perbincangan yang semakin serius. Meski para filosof masih tetap memperdebatkan esensi dari eksistensi manusia, yang hasil kesimpulan sementaranya adalah “tidak ada seorang filosof-pun sejak awal hingga kini yang mampu merumuskan defenisi utuh tentang manusia”. Dilain tempat, para saintis melangkah selangkah lebih maju dengan menaruh ketertarikan yang besar akan kajian kesadaran manusia dan melakukan berbagai riset lebih mendalam tentang memori hidup manusia.
      Sama dengan hasil mengagumkan yang di hasilkan dari penelitiian genetic engineering oleh Rosalind Franklin, J.D Watson, dan F.H.C Crick. Yang menguji bahan kimia penjaga materi dasar dari kehidupan mahluk hidup. Mereka meneliti control dari pembangun DNA (deoxyribonucleic acid) dalam kromosom yang menentukan hereditas dari ras manusia, menghasilkan modifikasi DNA dan rekayasa genetika, dengan mempertahankan keunggulan-keunggulan spesies dan mengeliminasi kekurangan dan kelemahannya, yang penerapannya pada industri dan berbagai bidang keilmuan seperti botani dan zologi, menghasilkan banyak manfaat bagi manusia[2]. Pada penelitian neurologic, Kesadaran manusia oleh beberapa saintis untuk sementara ini disimpulkan sebagai hasil dari kumpulan implus-implus neurologic yang bersifat kimiawi dan mampu dirubah menjadi materi elektro maknetik. Beberapa saintis menambahkan teori materi elektronik dari kesadaran manusia tersebut dapat di simpan dalam hardwere sebagai data komputer. Meski penemuan ini, sejauh yang kita ketahui hanya merupakan teori yang belum pasti dan cendrung spekulatif, namun ditangan produser filem fantasi dan para aktor dan aktrisnya, teori ini telah berhasil di wujudkan dalam gambar nyata dan imaji-imaji yang mengagumkan dalam beberapa filem seperti: Transendent, Chappie, Vinc, Edge of tomorro dll. Dimana kesadaran manusia yang telah di rubah menjadi elektro magnetik berupa data komputer di aplowad ke jejaring internet (dalam filem transendent) atau di aplowad ke dalam sebuah robot (dalam filem chappie) yang endingnya tentusaja keabadian dari kesadaran manusia. Dan ungkapan populer “knowledge is power”-pun akhirnya menemukan realisasinya, dimana kesadaran manusia yang berhasil di aplowad ke dalam jejaring internet mampu mengakses seluruh informasi yang tesimpan di internet di seluruh dunia. Beberapa kalangan bahkann memprediksi, beberapa tahun ke-depan, manusia telah mampu menciptakan kecerdasan buatan, yang mampu berpikir sendiri dan berkesadaran sendiri selayaknya manusia.
Manusia pada dasarnya tidaklah memiliki perbedaan dengan binatang, selain kesadaran (consciousnesss) yang di milikinya, manusia pada kenyataannya tidak memiliki keunggulan apapun di bandingkan hewan. Tubuh biologis manusia tidak mampu bertahan pada lingkungan sulit seperti lingkungan dengan suhu minus derajat celsius dimana serigala, rusa dan beruang kutub begitu mudah hidup di dalamnya. Bayi manusi tidak dapat hidup tanpa disapih oleh ibunya hingga bebrapa tahun lamanya, dimana bayi ikan, cumi, tekik (bayi penyu), ular dll mampu hidup meski tanpa mengenal orang tuanya. Demikian pula kekuatan kaki dan kuku manusia, tidak sekuat kuda, kerbau, sapi, dll, dan pastinya tidak akan mampu menyaingi kecepatan chetah, rusa, serigala dll kekuatan tangan manusia tidak akan mampu menyayingi kekuatan tangan gorilla, simpanse atau kera yang bisa berayun dari ranting keranting dengan mudah. Pada kesimpulannya, Manusia sungguh tidak akan sanggup bertahan hidup seharipun jika ia mengandalkan hidupnya sebagai hewan, bukan dengan kesadaran yang dimilikinya sebagai makhluk yang mampu belajar, “Animal Educandum”, mengumpulkan fakta, menganalisisnya dan menarik kesimpulan dan menciptakan alat untuk bertahan hidup, serta memodifikasi lingkungan untuk mendukung kelangsungan hidupnya. Dan karna kesadaran ini pulalah yang menjadikan manusia dijuluki  “homo sapipens”, atau the wise species[3].
Penelitian dan penemuan yang terus berkembang di berbagai cabang ilmu pengetahuan tentunya menjadikan kita kagum akan tingginya pencapaian kreasi dan imajinasi manusia. According to the Bible, God created man “in his own image”[4].  Namunpun demikian, sebagai catatan tambahan, kecanggihan pencapaian manusia yang mengagumkan tersebut menurut penelitian neurologik di lakukan hanya dengan memaksimalkan 10% dari kapasitas otak manusia. Maka dengan demikian, sungguh tidak mampu dibayangkan jika manusia mampu memaksimalkan penggunaan kemampuan otaknya meski itu hanya 50%-nya. Even without religion, sophistication or science human can recognize his superiority. That they could domesticate dogs and the dogs could domesticate them, or that man could outwit and kill even the “king of the beasts”[5].
Lalu sampai sejauh ini, dimanakah posisi DDI dalam arus kuat badai zaman?. Mampukah DDI terus eksis dan memberikan sumbangsih bagi peradaban manusia moderen yang telah jauh berkembang?. Tentu, seluruh kader dan warga Addariyah mengharapkan agar lembaga besar ini terus eksis dan memberi warna lain dalam arah pembangunan bangsa dan agama. Sudah saatnya semua elemen DDI menyingsingkan lengan baju (mars IMDI), bahu membahu, membangun sistem yang mampu merespon tuntutan zaman, Namun sebelum itu, berbagai hal yang menjadi alang-rintang dari penguatan kelembagaan harus segera di selesaikan. Seperti sistem kaderisasi yang kaku, kolot, dan tidak kompetitif, corak dan arah pembangunan keumatan dan bangsa yang buram dan tidak jelas. Serta seabreg persoalan pelik lainnya. Seperti polarisasi laten yang telah terbentuk sedemikian lama hingga mengkotak-kotakkan kekuatan DDI, serta semangat berlembaga yang sangat lemah. Kini, tampilnya orang-orang muda yang relatif terbebas dari polarisasi yang pernah muncul untuk memimpin DDI dengan sistem organisasi yang moderen bukan lagi sekedar sebuah keinginan, tapi sebuah kebutuhan[6]. DDI hari ini harus mampu menyiapkan kader-kadernya untuk mengabdi dan berjihad fisabilillah (mars IMDI) dimedan laga, dimana zaman dan tantangannya telah jauh berbeda dari zaman para pendiri dan pejuang DDI. Era ini, era dimana “pedang ideologi” yang hegemonik menjadi senjata utama membelah dan mencerabut identitas setiap komunitas masyarakat dunia yang dinamis, unik dan multi-kultural, dan menggiring mereka menjadi satu komunitas global dengan identitas sama yaitu konsumerisme dan hedonisme, serta upaya menyisihkan kesadaran keagamaan dan spiritualitas manusia dengan paham sekularisme dan liberalisme.
B.   DDI dan cita-cita khairo Umah (antara Masyarakat Madani dan Civil Socaity)
Sebagai sebuah lembaga kemasyarakatan, dan keagamaan, cita-cita perbaikan keadaan keumatan adalah usaha dan amal bakti yang menjadi tujuan utama dari visi dan misi pengabdian DDI bagi bangsa dan agama. Untuk itu, pemberdayaan bidang pendidikan, dakwah dan usaha ssosial digalakkan. Dalam perkembangannya, ada dua tipikal dan konsepsi keumatan ideal yang saat ini menjadi pembahasan berbagai kalangan beberapa decade terakhir. Konsep itu adalah Masyarakat Madani dan Civil Socaity.
Kedua konsep diatas, disatu sisi memiliki persamaan dalam ke-ideal-an, namun disisi lain memiliki ketidak samaan bahkan pertentangan yang menjadi pergulatan di tengah masyarakat ilmiyah dan masyarakat awam pada umumnya. Konsep Masyarakat Madani banyak di usung dan diadopsi oleh kelompok-kelompok “Islam Modernis”, “Islam Strukturalis” atau “Islam Pro-Negara” yang biasanya di wakili oleh ICMI, Muhammadiyah, dan generasi “Masyumi” baru, sedang konsep Civil Socaity di usung dan di adopsi oleh kelompok “Islam Tradisionalis”, “Islam Kultural”, Atau “Islam Pro-Masyarakat” yang biasanya di wakili oleh NU [7].
Sebelum lebih jauh, dalam tulisan ini, penulis merasa penting untuk membagi dan menggolongkan unsur-unsur penyusun masyarakat sosial menjadi lima, yaitu: Individu, Keluarga, Masyarakat, Kelompok Masyarakat dan Bangsa atau Negara[8].
Baik Masyarakat Madani, maupun Civil Socaity, masing kasing memiliki kelemahan dan kelebihannya. Oleh karna itu, untuk menemukan dan merumuskan Khairo Ummah DDI, penulis mengajukan jalan tengah dimana Masyarakat Madani dan Civil Socaity dapat dipadu padankan seiring sejalan dan saling memberi kelebihan dan menutupi kekurangan dalam upaya pembangunan keumatan DDI. Selanjutnya, ke lima unsur penysun masyarakat sosial diatas, penulis bagi menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok pertama terdiri atas: individu dan keluarga, yang lebih cocok menerapkan konsep Masyarakat Madani, sedang kelompok ke dua yang terdiri atas: Masyarakat, Kelompok Masyarakat Dan Negara atau Bangsa lebih cocok menerapkan konsep Civil Socaity.
 Beberapa sebab dan alasannya: Pertama; Dalam analisisnya, Masyarakat Madani memiliki keunggulan dan perhatian besar pada usaha pembinaan individu dan keluarga menuju individu dan keluarga yang baik. Namun lemah dalam penguatan masyarakat dan tidak memiliki konsepsi jelas terhadap pola kepemimpinan dan struktur ideal negara. Selain itu, konsep masyarakat madani mewarisi kelemahan historis, dimana kolusi dan nepotisme, dan prakterk korupsi menjadi identik dalam sebagian besar catatan sejarahnya, selain itu, tersumbatnya keran bersuara dan berpendapat, serta tidak terealisasinya kebebasan, persamaan hak dan kewajiban (supreoritas suatu golongan / suku atas yang lain), isu HAM dan kemajemukan (pluralisme) serta Demokrasi. Selanjutnya, memaksakan konsep Masyarakat Madani pada level kenegaraan akan menggiring friksi dan pertentangan tentang konsep kenegaraan seperti apa yang ideal dan akan di terapkan?, serta konsep kenegaraan seperti apa yang pernah di terapkan dalam kesejarahan Masyarakat Madani dimasa idealya dahulu?. Selain masalah teoritis isdeologis di atas, masalah praktis dimana basis masyarakat Addariyah yang kebanyakan bermukim di desa dengan tipologi sosioantropologi kehidupan desanya, menyulitkan penerimaan konsep Masyarakat Madani secara utuh, dalam artian Masyarakat Madani yang moderen dan kosmopolitan.
Sebaliknya, Kedua, civil Socaity memiliki kelebihan pada persamaan hak, isu HAM, kebebasan, kemajemukan (pluralisme) dan konsepsi kenegaraan dengan Demokrasi, serta chack and balances kekuatan Civil Socaity dan negara pada pengambilan kebijakan strategis. maka konsep Civil Socaity lebih cocok untuk pembangunan Masyarakat, Kelompok Masyarakat dan Negara atau Bangsa, namun lemah dan tidak memberi porsi besar pada usaha pembinaan individu dan keluarga menuju individu dan keluarga yang baik terlebuh lagi, perbedaan tata etik dan moralitas Barat (Eropa dan Amerika) yang jauh berbeda dengan etik dan moralitas ketimuran. Selain itu, civil Socaity mewarisi cacat pada konteks historis dimana ia berkembang dalam konteks masyarakat yang mulai melepaskan diri dari dominasi agamawan dan para raja yang berkuasa atas dasar legitimasi agama (sekularisme). Ideologi skeluralisme dan libralisme yang terkandung dalam Civil Socaity sebagai konsekuensi kesejarahannya inilah yang ketika di kontekstualisasikan dan di paksakan pada DDI, tidak akan dapat sejalan dan senafas dengan semangat pembinaan keumatan DDI. Lebih lanjut dijelaskan bahwa civil society tidak hanya menolak dominasi negara atas dirinya, tetapi juga karena sebagai institusi yang bersifat non-state. Maka dalam penampilan kelembagaannya ia tidak mendominasi individu-individu dalam dirinya. Di sinilah posisi individu sebagai aktor sosial yang bebas yang diistilahkan Gellner sebagai manusia moduler (tidak dipengaruhi kultur). Civil Socaity yang lahir dari transformasi masyarakat feodal Barat (Eropa dan Amerika) menuju masyarakat industrial akan sangat tidak cocok dan a-historis terhadap individu dan keluarga Addaryah yang kukuh memegang tradisi kultural dan  keberagamaannya.



[1] Klein, david. Klein, E. Marymae. Your self and other. (United States Of America. 1975).

[2] Beers f. burton, Feldman Kevin dkk. Prentice hall World history (United State Of America.2009).
[3] SPUP. Materi ajar Paulin ethic. 2017
[4] Klein, david. Klein, E. Marymae. Your self and other. (United States Of America. 1975).
[5] Ibid.  
[6] Azhar arsyad, dkk. Ke-DDI-an. Sejarah dan pandangan hidup atas isu-isu kontemporer. Yogyakarta. 2005.
[7] Ahmad baso. Civil Sosaity versus Masyarakat Madani: Arkeologi Pemikiran “Civil Sosaity” dalam Islam Indonesia. (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999, cet ke 1) hal 246
[8] Azhar arsyad, dkk. Op.cid., hal 77

Komentar