NKRI HARGA MATI

NKRI HARGA MATI
Nasionalisme  Tanpa Nasionalisasi
Oleh Nur khaliq S.Kep
Mahasiswa Pasca Sarjana Santa Paul University Filiphina

Hari jadi kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 72 disambut gegab gempita dan suka cita oleh seluruh warga negara, di hampir seluruh tanah-tumpah darah negri zamrut katulistiwa, merah putih berkibar perkasa. Pesta perayaanpun di gelar untuk memperingatinya, kegembiraan memenuhinya, maklumlah!, hiburan sekali setahun bagi rakyatnya. Turnamen sepakbola, turnamen sepak takrow, volly ball, balap karung, lomba lari kelereng, perlombanan seni dan kebudayaan rakyat, tari dan puisi, debat, ceramah, tilawah, hingga lomba adzan, dan puncak acara, panjat pinang kemudian ditutup dengan pengibaran bendera pusaka dan arak-arakan kendaraan hias pawai mengitari penjuru kota yang di ikuti dengan meriahnya gerak jalan setelahnya.
Di kota-kota dan desa, semerbak kemerdekaan semua sama. kemerdekaan selalu jadi ajang yang meriah. Halaman ditata rapi, asri dan indah, pagar di cat meriah serta umbul-umbul melambai bahagia .  Anak-anak turut bersuka ria, libut sekolah, demikian pula guru dan pegawai negrinya. Mereka tak perlu ke kantor kecuali hadir di upacara, berdiri dalam rapinya barisan, hormat bendera, mendengar hikmat dan arahan pembina upacara.
Suka dan cita kemerdekaan penuh hikmah, juga dirayakan oleh mereka yang merantau dan tinggal diluar negri. Diplomat, bisnisman multinaasional, mahasiswa hingga Jutaan TKI. Perayaan diluar negri tentu agak berbeda dengan perayaan dalam negri. Warga negara RI yang merantau dan tinggal Di negara luar negri menjaga semangat proklamasi dengan hanya sedikit perayaan dimasing-masing kedutaan, namun dalam jiwa dan sanubari, nasionalisme tidak diragukan lagi.
Namun, apakah sesungguhnya makna nasionalisme?. Apakah sekedar pengibaran benbera setahun sekali, dan setelah itu kita pulang untuk tidur lagi?, ataukah nasionalisme adalah selogan penuh sekterianisme dan kebencian yang digunakan untuk memulai  perang opini di media massa?, ataukah sesungguhnya ia adalah semangat berkemajuan, semangat bermartabat dan kemandirian?.
setelah 72 tahun merdeka, bangsa besar ini nampaknya  masih terpaut dengan problema yang lama yang masih juga sama. Seolah ia tak mampu belajar dari pahit getir kegagalan dan sakitnya luka dan penghianatan. Kemiskinan, rendahnya pendidikan, pemenuhan hajat kesehatan yang minim,  jumlah penganguran yang tinggi, korupsi, gurita mafia, pembunuhan dan pembungkaman politik, pemberangusan hak berpendapat, dan yang termutakhir, konflik dan gesekan SARA yang mengubah kenyamanan dan kedamaian berbangsa menjadi penuh caci maki yang menjijikan. membelah diskusi dan pilihan rakyat hingga Rumah Ronda, dan beribu problema lain yang tak pernah menemukan jalan penyelesaiannya.
 Faktanya, 80 persen aset bangsa justru dikuasai dan dikelola asing. Tambang dan lahan perkebunan, hutan dan lautan, air, udara, hingga garam, tidak mampu di olah sendiri oleh tangan dan punggung perkasa anak bangsa. Kebijakan penguasa mengekang, legislatifnya menelorkan aturan yang menguntungkan segelintir golongan dan pemilik modal. Elit politik lihai menyalahkan, meneriakkan seruan nasionalisme, namun menjadi penghianat pertama dari nasionalisai. Selanjutnya dapat dipastikan, rakyat lagi, lagi, dan seterusnya hanya akan menjadi korban, sebagai sapi perah yang harus “cerdas” membayar pajak. Kini, Jutaan rakyat negri ini menanti kedamaian, kemajuan serta perbaikan nasib bagi kehidupan diri dan keluarga, yang nampaknya masih akan terus ditunggu, seperti menunggu kedatangan Al-Mahdi sang pembawa kemenangan.
Tahun-tahun mendatang, tantangan regional menerjang, liberalisasi kawasan ASEAN melalui kebujakan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) mengalirkan arus kuat barang, orang dan investasi modal, yang bila tidak di maknai dengan baik, maka bukannya keuntungan yang akan di peroleh, justru kemalangan dan kebuntungan.

Profesionalisme, kebijakan nasional yang memihak rakyat dan skill unggul menjadi syarat wajib bertarung dalam persaingan regional. Untuk  itu, peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan kerja mutlak dilakukan. Bilakah itu tidak terpenuhi, maka angkatan kerja yang besar justru akan menjadi beban, dan rakyat bangsa ini, akan terdiskualifikasi  dari permainan, dan hanya akna menjadi penonton. Sungguh kasihan, bangsa besar, namun rakyat harus jadi jongos dan babu dinegri sendiri.

Komentar

  1. Wynn Casino & Hotel - Mapyro
    Located in Las Vegas Strip, 김천 출장샵 this is a high-rise building in Las Vegas, 경상남도 출장안마 Nevada, 군산 출장샵 U.S.A.. View a detailed profile of the structure 16116 경상남도 출장안마 WYNN 밀양 출장안마 LAS VEGAS BLVD SOUTH

    BalasHapus

Posting Komentar